Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Gadjah Mada (DSDM UGM) bekerja sama dengan Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas (SPMRU) pada 23 Desember 2025 menyelenggarakan Sosialisasi Program Equity untuk Pengembangan Staf Akademik Tahun 2025. Program Equity (Enhancing Quality Education for International University Impacts and ) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dirancang untuk mendorong perguruan tinggi Indonesia menuju World Class University melalui peningkatan kualitas riset, inovasi, reputasi internasional, serta perluasan akses pendidikan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring dan diikuti 223 staf akademik yang terdiri dari dekan dan wakil dekan serta para dosen di lingkungan UGM.
Dalam sambutannya, Prof. Suadi, S.Pi., M.Agr.Sc., Ph.D. selaku Direktur DSDM menyampaikan bahwa bahwa Program Equity 2025 memberikan mandat kepada UGM untuk melaksanakan lima program strategis yang selaras dengan pengembangan sumber daya manusia, penguatan institusi, serta peningkatan daya saing global universitas.
Sementara itu, Kepala Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas (SPMRU) Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA., menambahkan bahwa Program Equity 2025 memiliki peran strategis dalam penguatan sistem penjaminan mutu dan peningkatan reputasi internasional UGM. Implementasi program ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas akademik, kinerja riset, serta pengakuan global melalui indikator-indikator yang terukur dan berkelanjutan.
Lima program Equity tersebut meliputi: Presenting at International Scientific Conferences, Pembicara pada Plenary Session Konferensi Tahunan Asosiasi Keilmuan Dunia, Sabbatical Leave, Visiting (Inviting) Top Professors, serta Adjunct Professors. Kelima program tersebut dirancang untuk meningkatkan eksposur global dosen UGM sekaligus memperkuat posisi UGM dalam peta akademik internasional.
Program Presenting at International Scientific Conferences bertujuan mendorong dosen UGM untuk mempresentasikan hasil risetnya pada forum ilmiah internasional bereputasi, sehingga dapat meningkatkan visibilitas karya ilmiah dan jejaring kolaborasi global. Program Pembicara pada Plenary Session Konferensi Tahunan Asosiasi Keilmuan Dunia diarahkan untuk meningkatkan peran dosen UGM sebagai narasumber utama pada forum-forum keilmuan internasional, yang sekaligus menjadi indikator pengakuan akademik global.
Program Sabbatical Leave memberikan kesempatan bagi dosen untuk melakukan pengembangan akademik dan riset di perguruan tinggi atau lembaga riset luar negeri guna memperkaya perspektif keilmuan, meningkatkan kualitas riset, serta memperluas kolaborasi internasional. Adapun program Visiting (Inviting) Top Professors memungkinkan UGM menghadirkan profesor kelas dunia ke lingkungan kampus untuk berbagi keahlian, memperkuat riset kolaboratif, serta meningkatkan atmosfer akademik internasional. Program Adjunct Professors juga menjadi instrumen strategis dalam memperkuat pembelajaran dan riset melalui keterlibatan akademisi global.
Kelima Program Equity 2025 tersebut dipaparkan secara komprehensif oleh Eko Yulianto, S.E., M.Acc., Erna Kartini, S.E., M.B.A., dan Evie Noor Widyaningsih, S.I.P., M.B.A. Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan tujuan masing-masing program, ruang lingkup kegiatan, mekanisme pelaksanaan, serta peluang yang dapat dimanfaatkan oleh dosen UGM. Penjelasan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang utuh dan mendorong partisipasi aktif dosen dalam Program Equity 2025.
Melalui Sosialisasi Program Equity 2025 ini, UGM mengajak seluruh dosen untuk memanfaatkan berbagai skema yang tersedia sebagai bagian dari strategi pengembangan karier akademik dan peningkatan kinerja institusi. Program ini diharapkan menjadi pengungkit utama dalam memperkuat kualitas riset, meningkatkan reputasi internasional, serta mewujudkan kontribusi nyata UGM dalam pembangunan pendidikan tinggi Indonesia yang unggul dan berdaya saing global. (DSDM/Adi).

